Puisi Kehidupan Tanpa Judul

Posted by Slamet Riadi On Senin, 14 Maret 2016 0 komentar
https://www.facebook.com/harni.melati.7
Hujan,
Masihkah kau ingat deritaku,Kala itu aku berlindung dibawah warna warni indahmu,
Sesak nafas ini saat ku gandeng jemarimu,

Sepanjang jalan itu,
Tak berhenti berkaca mataku kala itu,
Menetesi setiap jengkal langkahku,
Perih dan sangat perih hatiku,
Seperti tak ada ampun bagiku,
Menghakimi ketidak berdayaanku,
Seperti sampah yang berbau,
Terbuang disetiap selokan itu,
Tuhan disudut sana tempat kembaliku,
Kecil dan sangat kecil diriku,
Terimakasih atas kasih-Mu,
Aku akan tetap hidup dengan taqdir-Mu,


Waktu terus berlalu, 
Detik pun begitu,
Kau tahu....
Aku masih seperti yang dulu,
Menyimpanmu dihatiku,
Tertata rapih diperpustakaan jiwaku,
Kau mungkin melupakan satu hal dariku,
Bahwa zaman akan memakan cintaku,
Tidak tidak itu bukan diriku,
Semua masih ada bersamaku,
Tuhanku mengajariku,
Mencintaimu adalah anugrah terindah bagiku,
Tak ku biarkan kau terluka karenaku,
I Love you kekasihku.

Tak dapat ku bayangkan,
Acap tuturmu bagai sembilu,
Mencakar hati ini,
Tanpa simpati di hati,
Ingin rasanya,
Ku hilangkan rasa kecewa,
Menghapusnya,
Dan melupakannya,
Hingga tiap bait lagupun,
Telah memahami aku,
Tanpa dia mengenalku,
Lebih dari kamu.

Cukup jangan cerita lagi,
Saatnya kau berhenti,
Terucap sekali,
Kan teringat sampai mati,
Kenapa harus ada luka,
Kalau cinta kasih itu lebih berharga,
Kau tak kan mengerti,
Jika hatimu dipenuhi dengki,
Kasih yang seluas samudra,
Kau pun tak bisa merasakannya,
Terbenam dan tenggelam dalam ikhlasnya,
Itu pun sia sia,

Bagaimana akan bisa mencintai,
Kalau tak mengerti,
Hati ini, pengorbanan ini, dan hidup ini,
Semua tak bisa dipahami,
Siapa dan untuk apa,
Daun yang telah mengering,
Tertiup angin, terpapar terik dan terkuyup hujan,
Semua tak bisa dipahami,
Ketika mulai terluka,
Apa yang terlihat hanyalah fana,
Terdiam kecil disudut sana,
Bisu dan tak bicara.

Aku sadar kaki ini tak akan berhenti melangkah,
Walau terseok seok untuk menggapai asa,
Kerikil tajam ini mungkin sudah biasa terinjak oleh kaki telanjangku,
Kadang darah dan rasa sakit itu mengusikku,
Ah...semua itu sudah biasa,
Begitu biasanya akupun lupa bahwa aku adalah wanita,
Disudut sanalah tempat berhentiku,
Tertunduk, kecil dan tak berdaya,
Tertumpah tangis dan jeritku,
Tidak ada yang tahu dia, dia ataupun dia,
Hanya satu, hanya yang maha satu yang tahu.

Karya Harni Mella 

0 komentar to Puisi Kehidupan Tanpa Judul

Posting Komentar

Google Hot Trends

Kata Muda-Mudi by Slamet Riadi. Diberdayakan oleh Blogger.